KONTRAKSI UTERUS

Uterus terdiri dari tiga lapisan otot polos, lapisan luar longitudinal, lapisan dalam sirkular dan diantara dua lapisan ini terdapat lapisan dengan otot-otot yang berayaman “tikar”. Seluruh lapisan otot ini bekerjasama dengan baik, sehingga terdapat pada waktu his yang sempurna sifat-sifat :
a). Kontraksi yang simetris
b). Kontraksi paling kuat atau adanya dominasi difundus uteri, dan
c). Sesudah itu terjadi relaksasi
Pengetahuan fungsi uterus dalam masa kehamilan banyak dipelajari oleh Caldeyro-Barcia dan hasil-hasilnya diajukan pada kongres kedua international Federation of Gynaecology and Obstetrics di Montreal, Juni 1958. Ia memasukkan kateter polietilen halus kedalam ruang amnion dan memasang mikrobalon dimiometrium di fundus uteri, ditengah-tengah korpus uteri dan dibagian bawah uterus . Semuanya kemudian disambung dengann kateter polietilen halus kealat pencatat ( electrometer ). Dengan demikian dapat diketahui bahwa otot-otot uterus tidak mengadakan relaksasi sampai 0, akan tetapi masih mempunyai tonus, sehingga tekanan didalam ruang amnion masih terukur antara 6-12 mm Hg. Pada tiap kontraksi tekanan tersebut meningkat disebut amplitude atau intensitas his yang mempunyai dua bagian :
a). Peningkatan tekanan yang agak cepat
b). Penurunan tekanan yang agak lambat

A. HIS (Kontraksi Uterus)
His (kontraksi) adalah serangkaian kontraksi rahim yang teratur karena otot-otot polos rahim yang bekerja dengan baik dan sempurna secara bertahap akan mendorong janin melalui serviks (rahim bagian bawah) dan vagina (jalan lahir), sehingga janin keluar dari rahim ibu.Kontraksi menyebabkan serviks membuka secara bertahap (mengalami dilatasi), menipis dan tertarik sampai hampir menyatu dengan rahim. Perubahan ini memungkinkan janin bisa lahir.
His biasanya mulai dirasakan dalam waktu 2 minggu (sebelum atau sesudah) tanggal perkiraan persalinan. Penyebab yang pasti dari mulai timbulnya his tidak diketahui, mungkin karena pengaruh dari oksitosin (hormon yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisa dan menyebabkan kontraksi rahim selama persalinan). Persalinan biasanya berlangsung selama tidak lebih dari 12-14 jam (pada kehamilan pertama) dan pada kehamilan berikutnya cenderung lebih singkat (6-8 jam).
Show (sejumlah kecil darah yang bercampur dengan lendir dari serviks) biasanya merupakan petunjuk bahwa persalinan segera dimulai tetap: show bisa keluar 72 jam sebelum kontraksi dimulai kadang selaput ketuban pecah sebelum persalinan dimulai dan cairan ketuban mengalir melalui serviks dan vagina. Jika selaput ketuban pecah, segera hubungi dokter atau bidan sekitar 80-90% wanita yang selaput ketubannya pecah berlanjut menjadi persalinan spontan dalam waktu 24 jam. Jika setelah lewat 24 jam persalinan belum juga dimulai dan keadaan bayinya baik, biasanya dilakukan induksi persalinan untuk mengurangi resiko infeksi akibat masuknya bakteri dari vagina ke dalam rahim infeksi bisa menyerang ibu maupun bayinya. Untuk menginduksi persalinan biasanya digunakan oksitosin atau obat yang serupa.
1. Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa saat persalinan semakin mendekat :
Tanda Artinya Kapan terjadi
Perasaan seolah-olah bayi
telah turun ke bawah Lightening, yaitu turunya bayi.
kepala bayi telah masuk ke dalam panggul ibu Mulai dari beberapa minggu sampai beberapa jam sebelum persalinan dimulai
Keluar cairan dari vagina (jernih, berwarna pink atau sedikit mengandung darah) Show, yaitu lendir kental yang tertimbun di serviks mulai berdilatasi, lendir ini terdorong ke dalam vagina Beberapa hari sebelum persalinan di mulai atau pada awal persalinan
Keluar cairan encer yang memancar atau mengeluar dari vagiana Selaput ketuban pecah, yaitu pecahnya kantung berisi cairan yang mengelilingi bayi selama dalam kandungan Mulai dari beberapa jam sebelum persalinan di mulai sampai setiap saat selama persalinan
Pola kram yang teratur, yang mungkin dirasakan sebagai nyeri punggung atau kran, mentruasi Kontraksi, yaitu menkerut & mengendurnya rahim. Semakin kuat & bisa menyebabkan nyeri karena serviks bergerak di sepanjang jalan lahir Pada awal persalinan

Dalam mengawasi persalinan hendaknya selalu dibuat daftar catatan tentang his pada status wanita tersebut, diantaranya :
• Frekuensi adalah jumlah his dalam waktu tertentu biasanya permenit atau per 10 menit.
• Amplitudo atau intensitas adalah kekuatan his diukur dalam mmHg. Dalam praktek, kekuatan his hanya dapat diraba secara palpasi apakah sudah kuat atau masih lemah.
• Aktivitas his adalah frekuensi dan amplitudo diukur dengan unit Montevideo. Contoh : frekuensi suatu his 3x per 10 menit dan amplitudonya 50 mmHg, maka aktivitas rahim = 3×50= 150 unit Montevideo.
• Durasi his adalah lamanya setiap his berlangsung diukur dengan detik, misalnya selama 40 detik.
• Datangnya his : apakah datangnya sering, teratur, atau tidak.
• Interval adalah masa relaksasi.
Penelitian tentang kekuatan his banyak dilaporkan oleh Caldeyro / Barciadaro Amerika latin (1958). Dari penelitian ini diperoleh bahwa otot-otot uterus pada waktu relaksasi masih mempunyai tonus dengan tekanan antara 6-12 mmHg. Sedangkan pada tiap kontraksi tekanan tersebut meningkat.
Pace maker adalah pusat koordinasi his yang berada pada uterus disudut tuba dimana gelombang his berasal. Dari sini gelombang his bergerak ke dalam dan ke bawah dengan kecepatan 2 cm, tiap detik mencakup seluruh otot-otot uterus, di sebut fundus dominan. Oleh karena serviks tidak mempunyai otot-otot yang banyak, maka pada setiap his terjadi perubahan pada serviks :
• Tertarik dan mendatar (eyffacement)
• Membuka (Dilatasi)
2. Aktifitas Uterus (Miometrium)
Pada kehamilan menjelang 7 bulan, bila dilakukan pemeriksaan palpasi atau pemeriksaan dalam dapat diraba adanya kontraksi-kontraksi kecil dari rahim (kontraksi Braxton / Hicks) amplitudo 5 mmHg berlangsung sebentar sesudah kehamilan 30 minggu, aktifitas rahim akan lebih kuat dan lebih sering.
Pada kehamilan diatas 36 minggu dan pada permukaan kala 1, his timbul lebih sering dan lebih kuat, permukaan serviks 2 cm. Pada akhir kala 1, kontraksi uterus lebih meningkat, lebih sering dan teratur dengan amplitudo 60 mmHg.
• Pada kala pengeluaran, his menjadi lebih efektif, terkoordinasi, simetris dengan fundadominan kuat, dan lebih lama (60-90 detik).
• Pada waktu relaksasi, kekuatan tonus uterus kurang dari 12 mmHg, karena dalam keadaan istirahat.
Adakalanya pada waktu uterus beraktifitas dengan kontraksi maka akan menemukan rasa nyeri dan sakit rasa his. Perasaan sakit ini mungkin dikarenakan askemia dalam corpus dan tempat terdapat banyak serabut saraf. Peristiwa ini meneruskan perasaan sakit melalui saraf sensorik di pleksus hipogastrikus ke sistem saraf pusat. Sakit pinggang sering terasa pada kala pembukaan dan bila bagian bawah uterus berkontraksi. Hal ini disebabkan oleh serabut sensorik turut terangsang, maka dari itu, jika His sempurna dan efisien dengan adanya dominasi di fundus uteri serta relaksasi bagian bawah uterus dan serviks, perasaan sakit pinggang dan sakit di bagian bawah ini akan berkurang.
B. Mekanisme His
Dalam persalinan perbedaan antara segmen atas rahim dan segmen bawah rahim lebih jelas lagi. Segmen atas memegang peranan yang aktif karena berkontraksi dan dindingnya bertambah tebal dengan majunya persalinan. Sebaliknya segmen bawah rahim memegang peranan pasif dan makin tipis dengan majunya persalinan karena diregang. Jadi segmen atas berkontraksi menjadi tebal dan mendorong anak keluar sedangkan segmen bawah dan serviks mengadakan relaksasi dan dilatasi menjadi saluran yang tipis dan teregang yang akan dilalui bayi. Kontraksi otot rahim mempunyai sifat yang khas seperti :
• Setelah kontraksi maka otot tersebut tidak berelaksasi kembali ke keadaan sebelum kontraksi tapi menjadi sedikit lebih pendek walaupun tonusnya seperti sebelum kontraksi yang disebut retraksi. Sehingga rongga rahim mengecil dan anak berangsur didorong ke bawah dan tidak banyak naik lagi ke atas setelah His hilang akibatnya segmen atas semakin majunya persalinan apalagi setelah bayi lahir.
• Tidak akan ada kemajuan dalam persalinan
Pada ligamentum rotundum dalam persalinan yang mengandung otot-otot polos apabila uterus berkontraksi maka otot-otot ligamentum rotundumikut berkontraksi hingga ligamentum rotundum menjadi pendek. Di ligamentum rotundum pada tiap kontraksi fundus yang tadinya bersandar pada tulang punggung berpindah ke depan mendeesak dinding perut ke depan.
Perubahan letak uterus waktu kontraksi penting karena sumbu rahim akan searah dengan sumbu jalan lahir. Dengan adanya kontraksi dari ligamentum rotundum fundus uteri terhambat pada ligamentum rotundum dalam persalinan yang mengandung otot-otot polos apabila uterus berkontraksi maka otot-otot ligamentum rotundum ikut berkontraksi hingga ligamentum rotundum menjadi pendek. Di ligamentum rotundum pada tiap kontraksi fundus yang tadinya bersandar pada tulang punggung berpindah kedepan mendesak dinding perut ke depan.
Perubahan letak uterus waktu kontraksi penting karena sumbu rahim akan searah dengan sumbu jalan lahir. Dengan adanya kontraksi dari ligamentum rotundum fundus uteri terhambat sehingga waktu kontraksi fundus tidak dapat naik keatas. Apabila fundus naik keatas waktu kontraksi maka kontraksi tersebut tidak dapat mendorong anak turun kebawah.
C. Perubahan-perubahan akibat His
Karena adanya kontraksi uterus ( his ) mengakibatkan perubahan-perubahan, antara lain :
• Pada uterus dan serviks : uterus teraba keras/padat. Karena kontraksi. Tekanan hidrostatis air ketuban dan tekanan intrauterine naik serta menyebabkan serviks menjadi mendatar ( effacement) dan terbuka ( latasi )
• Pada ibu : rasa nyeri karena iskemia rahim dan kontraksi rahim juga ada kenaikan nadi dan tekanan darah.
• Pada janin : Pertukaran oksigen pada sirkulasi uterus – plasenter berkurang, maka timbul hipoksia janin. Denyut jantung janin melambat dan kurang jelas didengar karena adanya iskemia fisiologis. Jika benar-benar terjadi hipoksia yang agak lama, misalnya pada kontraksi tetanik, maka terjadi gawat janin aspeksia dengan denyut jantung janin diatas 160/menit, tidak teratur.
D. Pembagian his dan sifat-sifatnya
a. His pendahuluan
His tidak kuat dan tidak teratur
Menyebabkab “show”
b. His pembukan
His pembukaan serviks sampai terjadi pembukaan lengkap 10 cm.
Mulai kuat teratur dan sakit.

c. His pengeluaran ( his mengedan ) atau kala III :
Sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinasi dan lama.
His untuk mengeluarakan janin.
Koordinasi bersama antara : his kontraksi otot perut, kontraksi diafragma dan ligament.
d. His pelepasan uri ( kala III )
Kontraksi sedang untuk melepaskan dan melahirkan plasenta.
e. His pengiring ( kala III )
Kontraksi lemah, masih sedikit nyeri ( merian ), pengecilan rahim dalam beberapa jam atau hari.
E. Perbedaan antara his sejati dan his palsu.
Sebelum terjadinya his sejati, seorang calon ibu bisa merasa his palsu atau kontraksi rahim yang tidak teratur. His ini disebut kontraksi brayton hisks. Ini merupakan hal yang normal dan mingkin lebih sering muncul pada sore hari. Mungkin sulit untuk membedakan antara his sejati dan hbis palsu. Biasanya his palsu tidak sesering dan tidak sekuat his asli. Kadang satu-satunya cara untuk mengetahui perbedaan antara his sejati dan his palsu adalah melakukan pemeriksaan dalam untuk bisa mengetahui proses persalinan yang akan terjadi.
Perbedaan antara his palsu dan his sejati.
Jenis perubahan His palsu His sejati
Karakteristik kontraksi Tidak teratur dan tidak semakin sering ( kontraksi Braxton hicks ) Timbul secara teratur dan semakin sering berlangsung selama 30-70 detik.
Pengaruh gerakan tubuh Jika ibu berjalan atau beristirahat atau jika posisi ibu berubah, kontraksi akan menghilang/terhenti. Meskipun posisisi atau gerakan ibu berubah kontraksi tetap dirasakan.
Kekuatan kontraksi Biasanya lemah dan tidak semakin kuat ( mungkin tadinya kuat kemudian melemah ) Kontraksinya semakin kuat
Nyeri karena kontraksi Biasanaya hanya dirasakan di tubuh bagian depan Biasanya berawal dipunggung dan menjalar kedepan.

1. Tahap-tahap persalinan
 Tahap I :mulai dari awal his sampai pembukaan lengkap ( sekitar 10 cm )
 Fase awal ( fase laten )
 Kontraksi semakin kuat dan teratur
 Rasa nyeri masih bersifat minimal
 Serviks menipis dan membuka sampai mencapai sekitar 4 cm
 jam pada kehamilan selanjutnya
 Fase aktif
 Serviks membuka sampai 10 cm
 Bagian terendah bayi ( biasanya kepala ) mulai turun kedalam panggul ibu
 Ibu mulai merasakan desakan untuk mengedan
 Fase ini berlangsung sekitar 5 jam ( pada kehamilan pertama ) dan 2 jam ( pada kehamilan berikutnya )
 Tahap II : mulai dari pembukaan lengkap sampai bayi keluar dari rahim ibu. Berlangsung selama 60 menit ( pada kehamilan pertama ) dan 15-30 menit ( pada kehamilan berikutnya ).
 Tahap III : mulai dari kelahiran bayi sampai pengeluaran plasenta ( ari-ari ). Biasanya tahap ini hanya berlangsung selama beberapa menit daja setelah proses berlangsung.
Selama tahap I, ibu dilarang mengedan karena mengedan sebelum pembukaan lengkap akan me3nghabiskan tenaga dan bisa menyebabkan robekan pada serviks. Denyut jantung ibu dan bayi diperiksa setiap 15 menit. Jika denyut jantung bayi terlalu cepat atau terlalu lambat, maka dipertimbangkan untuk melahirkan bayi melalui operasi Caesar atau dengan bantuan forceps atau tindakan korektif lainnya ( misalnya ibu disuruh berbaring miring kekiri, menambah jumlah cairan infus atau memberikan O2 melalui selang hidung ).
Selama tahap II, ibu diharuskan mengedan setiap merasakan kontraksi agar bayi terdorong kevagina. Pemantauan denyut jantung bayi dilakukan setiap 3 menit.
2. Persalinan Spontan
Tehnik persalinan spontan yang paling terkenal adalah metode Lamaze. Tehnik lainnya adalah metode leboyer, yang terdiri dari melahirkan diruang gelap dan merendam bayi dalam air hangat segera setelah dilahirkan. Pada persalinan spontan, untuk mengontrol nyeri selama persalinan digunakan tehnik relaksasi dan pernafasan.
Untuk mempelajari tehnik ini calon ibu dan suaminya bisa mengikuti latihan di rumah sakit mauoun klinik bersalin. Pada tehnik relaksasi, ibu secara sadar menegangkan sebagian tubuhnya kemudian mengendorkannya. Tehnik ini membantu ibu mengendorkan seluruh tubuhnya ketika rahim berkontraksi dan ketika rahim tidak berkontraksi. Beberapa jenis pernafasan bisa membantu ibyu da;lam menghadapi pefrsalinan tahap I ( sebelum diperbolehkan mengedan ).
 Menarik napas dalam ( untuk membantu ibu rileks ), dilakukan pada awal dan akhir kontraksi
 Menarik nafas dangkal dan cepat di dada bagian atas, dilakukan pada saat konttraksi mencapai puncaknya
 Menarik nafas pendek dan cepat diikuti dengan menghembuskan nfas melalui mulut, dilakukan untuk menahan keinginan untuk mengedan.
Pada stadium II ibu mulai boleh mengedaan dan diselangi dengan menarik nafas cepat dan pendek. Selama kehamilan ibu dan pasangannya sebaiuknya melakukan tehnik relaksasi dan pernafasan secara rutin. Selama persalinan berlangsung, sang suami bisa memantiu calon ibu dengan memngingatkan apa yang seharusnya dilakukan pada setiap tahap persalinan dan menenangkannya jika terlihat tegang. Pemijatan bisa mengurangi ketegangan pada calon ibu.

F. Tenaga mengedan ( power )
Tenaga mengedan adalah tenaga yang dimilliki dan dikeluarkan oleh ibu untuk mengeluarkan bayi atau plasenta. Tenaga ini dihasilkan setelah terjadi pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang mendorong anak keluar selain his dikakrenakan kontraksi otot-otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan intraabdomenal. Tanaga ini dikeluarakan saat kepala janin sampai pada dasar panggul timbul suatu reflex yang mengakibatkan pasien Menutup glottisnya, mengkontraksikan otot-otot perutnya dan menekan diacfragmanya kebawah. Tenaga mengejan sanmgat efektif sewaktu kontraksi rahim. Beberapa mekanisme mengadan yang dibagi dalam beberap[a fase dal;am kala II diantaranya :
1.Fase laten pada kala II
Kontraksi rahim yang lemah disekitar waktu pembukaan lengkap sering kali dijumpai dan disebut fase laten kala II. Pada saat ini akan terjadi penyesuaian berupa pemendekan serat-serat otot rahim yang akan mengurangi ruang dalam rahim sampai otot terakhir membungkus tepat badan janin. Selama proses tersebut kontraksi rahim melemah atau tidak dapat dirasakan selang beberapa waktu, kontraksi membaik dan wanita mengalami dorongan yang semakin kuat untuk mengedan yang bersamaan dengan peningkatan pelepasan oksotosin. Beberapa upaya untuk mempercepat kala II pada fase laten, diantaranya :
Meminta wanitaa untuk mengedan sekuat-kuatnya
Memberikan oksotosin untuk menguatkan kontraksi
Menunggu pembukaan lengkap dan mengedan dan usaha mengedan spontan dari ibu
2.Fase akhir pada kala II
Fase aktif kala II ditandai dengan penurunan janin dan usaha untuk mengedan tanpa sadar disebut sebagai bagian panggul dari persalinan. Periode mengejan atau fase penurunan. Usaha untuk mengejan merupakan usaha untuk mengatur posisi bernafas dan mengejan. Pada waktu mengambil nafas dalam menahannya dan mengejan sekuat-kuatnya selama sekurang-kurangnya 10 detik melepaskan nafas dan segera mengambil nafas kembali.
 Beberapa efek psikologis menarik nafas dan mengejan yang berkepanjangan pada wanita dan janin diantaranya:
 Sistem tekanan tertutup dengan rongga dada wanita sehingga terjadi penurunan arus balik vena, penurunan curah jantung dan tekanan darah arteri ibu.
 Peningkatan tahanan pembuluh darah tepi dikepala, wajah, lengan dan kaki. Penurunan kadar oksigen dalam darah ibu dan aliran darah ke plasenta. Peningkatan karbondioksida ibu sampai ia mengambil nafas.
 Peningkatan mendadak tekanan darah ketika mengambil nafas. Menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil. Distensi mendadak dari kanalis vaginalis dan otot-otot panggul.
 Kelelahan ibu
 Pada janin kandungan O2 dalam darah menurun dan aliran darah keplasenta menurun, sehingga O2 yang tersedia untuk janin menurun dan mengakibatkan janin hipoksia.

 Usaha mengedan spontan
Dengan usaha mengedan spontan kepada berbagai posisi efek samping yang tidak diharapkan pada menahan nafas maksimal yang berkepanjangan tidak akan terjadi. Jika seorang wanita tidak dibutuhkan untuk mengejan dengan cara atau posisi tertentu ia dapat menggunakan berbagai posisi. Menarik nafas, mengerang atau berteriak ketika berkontrasi.
Usaha mengejan spontan, biasanya terjadi seiring dengan kemajuan kala II dan janin turun usaha mengedan spontan akan semakin sering. Mengedan spontagn diawali ketika pembukaan lengkap, kemudian timbul kontraksi dan ibu akan bernafas terus samp[ai terasa ingi mengedan . di lanjutkan dengan mengedan spontan dan ibu menahan nafas atau bersuara serta memilih posisinya untuk melahirkan.
Dalam keadaan normal, dasar pangul wsanita membentuk landasan tempat kepala janin dapat berotasi dan otot-otot yang melapisi panggul juga memberikan bantalan lentur yang mendorong terjadinya rotasi. Tekanan otot-otot ini. Mendorong respon regangan yang berperan penting pada gerakan-gerakan utama dari penurunan. Seperti : pleki, rotasi internal dan rotasi internal.
 Bagaimana posisi mengejan yang baik ?
Posisi yang baik untuk mengejan adalah sesuai dengan keinginan dan kenyamanan ibu, tapi ada beberapa posisi baik yang bisa dilakukan ibu pada saat mengejan, yaitu:
1. Duduk atau setengah duduk, seringkali merupakan posisi yang paling nyaman, di samping memudahkan penolong persalinan dalam memimpin persalinan pada saat keluarnya kepala bayi, dan dalam mengamati perineum
2. Menungging atau posisi merangkak, baik dilakukan bila ibu merasakan kepala bayi tertahan di punggungnya. Posisi ini juga bermanfaat pada bayi yang sulit berputar
3. Jongkok atau berdiri, posisi ini membantu turunnya kepala bila persalinan berlangsung lambat atau bila ibu tidak mampu mengejan
4. Berbaring pada sisi kiri tubuh, posisi ini nyaman dan mampu mencegah ibu mengejan ketika pembukaan belum lengkap
Posisi yang tidak baik bagi ibu adalah berbaring lurus terlentang. Hal ini dapat menimbulkan penekanan pada pembuluh darah yang membawa darah untuk janin dan ibu, sehingga mereka akan memperoleh aliran darah dan oksigen yang lebih sedikit. Selain itu pada posisi ini ibu akan mengalam kesulitan dalam mengejan
 Tips mengejan yang baik.
Ada beberapa tips yang sepertinya pantas untuk dishare :
1. Ingatkan istri untuk selalu menarik napas yang dalam dan mengeluarkan pelan-pelan, cara ini akan sangat mengurangi rasa sakit ,
2. Sekali lagi tekankan point 1 sebagai ganti dari berteriak jika terasa sakit. Karena berteriak tidak akan mengurangi rasa sakit malah akan membuang tenaga yang akan sangat dibutuhkan sewaktu melahirkan ,
3. Pada waktu akan melahirkan beri support ke istri baik support psikologis maupun bantuan fisik dengan mendukung istri dari belakang saat mengejan ,
4. Sewaktu mengejan ada beberapa hal yang perlu selalu diingatkan ke istri , yang pertama adalah jangan sampai mengangkat pantat saat mengejan karena dapat merobek vagina. Pada proses melahirkan pertama kali biasanya akan digunting juga tetapi robek hasil guntingan beraturan sehingga mudah dijahit sementara robek karena kecelakaan tidak beraturan sehingga susah pulih ,
5. Sewaktu mengejan ingatkan istri supaya jangan menutup mata karena dapat membuat pembuluh darah di mata pecah, dan usahakan untuk melihat ke perut dengan bantuan dorongan suami dari punggung/leher
6. Sebagai persiapan mengejan minta istri untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya supaya dapat mengejan dalam waktu yang lama, dengan kemampuan mengejan dalam waktu yang lama insya Allah tidak perlu digunting
7. Sewaktu mengejan jangan sampai ada udara yang keluar dari hidung dan mulut karena akan mengurangi kekuatan mengejan secara signifikan.
8. Kalau udara keluar saja dilarang apalagi berteriak , sama sekali tidak membantu proses melahirkan.
G. Jenis-jenis kelainan his
a. Inersia uteri
Disini his bersifat biasa dalam arti bahwa fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu dari pada bagian-bagian lain, peranan fundus tetap menonjol. Kelainannya terletak dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman, singkat dan jarang dari pada bisaa. Keadan umum penderita biasanya baik, dan rasa nyeri biasanya tidak seberapa. Selama ketuban masih utuh umumnya tidak banyak bahaya, baik bagi ibu maupun janin kecuali jika persalinan berlangsung terlalu lama : dalam hal terakhir ini morbitas ibu dan mortalitas janin naik keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction. Kalau timbul setelah berlangsungya his kuat unutk waktu yangn lama, hal itu dinamakan inersia uteri sekunder. Karena dewasa ini persalinan tidak dibiarkan berlangsung demikian lama sehingga dapat mennimbulkan kelelahan otot-otot uterus. Kecuali pada wanita tidak diberi pengawasan baik waktu persalinan. Dalam menghadapi inersia uteri harus diadakapenilaia yang seksama untuk menentukan sikap yang harus diambil. Janagan dilakukan tidakan yang tergesa-gesa untuk mempercepat lahirnya janin. Tidak dapat diberikan waktu yang pasti, yang dapat dipakaki sebagai pengangan untuk membuat diagnosis inersia uteri atau untuk memulai terapi aktif.
Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam masa laten : untuk hal ini diperlukan pengalaman. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri. Tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah mulai. Untuk sampai kepada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi perubahan pada serviks, yakni pendataran dan atu pembukaan. Kesalahan yang sering dibuat ialah mengobati seorang penderita untuk inersia uteri padahal persalinan belum mulai ( fase labour).
b. His terlampau kuat atau disebut juga hypertonic uterine contraction.
Walaupun pada golongan coordinated hypertonic uterine contraction bukan merupakan penyebab distoksia, namun hal ini dibicarakan juga disinai dalam rangka kelainan his. His yang terlalu kuat dan terlalu efesien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu yang singkat. Partus yang sudah selesai kurang dari 3 jam dimakan partus presipitatus: sifat his normal, tonus otot diluar his juga biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his. Bahaya partus prespitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir. Khususnya serviks uteri. Vagian dan perenium,sedangkan bayi bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu yang singkat.
Batas antara bagian atas dan segmen bawah atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas dan meninggi. Dalam keadaan demikian lingkaran dinamakan lingkaran retraksi patologis. Ligamenta rotunda menjadi tegang lebih jelas teraba, penderita merasa terus menerus dan menjadigelisah. Akhirnya, apabila tidak diberikan penolong, regangan segmen bawah melampaui kekuatan jaringan terjadilah repturi uteri.
c. Incoordinati Uterine Action
Disinilah sifat his berubah. Tonus otot uterus meningkat,juga diluar his,dan kontraksi tidak berlangsung secara biasa karena tidak ada singkronisasi antara kontraksi bagian-bagianya. Tidak adanya kooedinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan.
Disamping itu tonus otot uterus yang menarik dapat menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. His jenis ini disebut sebagai uncoordinater hypertonic uterine contraction. Kadang-kadang pada persalinan persalinan lama dengan ketuban yang sudah lama pecah. Kelainan his ini menyebabkan spasmus sirkuler setempat sehingga terjadi penyempitan kuvom uteri pada tempat itu. Ini dinamakan lingkaran kontraksi atau lingkatan konstrisi. Secara teoritis lingkaran ini terjadi dimana-mana akan tetapi biasanya ditemukan pada batas antara bagian tas dan sigmen bawah uterus. Lingkaran kontriksi tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam kecuali kalau pembukaan sudah lengkap kecuali kalu pembukaan sudah lengkap, sehingga tangan dimasukan kedalam kavum uteri. Oleh sebab itu, jika pembukaan belum lengkap, biasanya tidak mengenal pelayanan ini dengan pasti. Adakalanya persalinan tidak maju karena kelainan pada serviks yang dinamakan distosia sevikalis. Kelainan ini bisa primer bisa sekunder.
d. uterus Tonika
Uterus Tonika merupakan obat-obatan(kemasan) yang kerjanya mempengaruhi his. Sumber dari uterus tonika ini berasal dari hewani, nabati dan sintesis secara umum , kegunaannya dalam obtetri:
 Mempengaaruhi kontraksi rahim akan memperkuat his
 Mengurangi pendarahan pada otonia uteri induksi atau stimulus partus
Cara pemakaian hendaknya menurut indikasi yang tepat. Penyalahgunaan obat-obat ini, kadang-kadang dapat membahayakan jiwa siibu, misalnya dapat terjadi robeknya rahim bila dipakai oleh orang yang tidak awas akan penggunaannya.
Obat-obatan tersebut antara lain:
a. Pituitrin:
- Pitresin
- Pitosin
Pituitrin adalah ekstrak dari kelenjat hifofisis lobus belakang, sehingga merupakan sumber hewani. Obat sintesisnya dikenal dengan nama syintocinion, sebagai nama umum disebut oxitonicine. Kemasan yang sering kita kenal :
Pitocin-piton-hypopisin-pitog-landol. Kerja obat ini memperkuat his yang dudah ada his dating lebih cepat (efek obat) dan dalam waktu yang lama.
Kegunaannya pada:
 Atonia uteri promer ( imertia uteri )
 Kala uri ( kala III ) dengan perdarahan
 Kala IV dengan atonia uteri
 Steinse kuur ( induksi partus secara dulu )
 Pada plasenta prepia, setelah pemecahan ketuban dengan maksud supaya perdarahan berhenti
 Pada kuret mola, supaya dinding rahim menjadi lebih tebal dan berkontraksi
 Abortus incipiens ( perdarahan banyak )
Kontra indikasi:
 Bagian terdepan anak belum turun
 Letak lintang, letak rangkap
 Robekan rahim mengancam
 Bekas-bekas operasi pada uterus yang hamil
 Hipertensi, eklampsia ( syinto dan pitosin boleh ),dll

b. Sycale cornutum
Asal, yaitu :
 Ekstrak dari celaviceps purpurea ( kapang gandum )
 Sintesis, misalnya medhergin ( Sandoz )
Isinya antara lain :
 Ergotamin
 Ergotoksin
 Etgometrin
Kerjanya :
 Memperkuat kontraksi rahim
 Ada efek di luar his, efek kerjanya lama dan pengaruhnya cukup lama. Kemasan yang tersedia berupa kemasan tincture, extractum, infusum, tablet, dll. Biasanya dipasaran kita kenal : ergot, ergotrat, ergotamine, ginergen, dan secara injeksi.
Dalam obstetri praktis sering dipakai pada :
 Postpartum
 Kala nifas
 Sub-involusio
 Abortus Incompletus
 Post-kuret,dll
Methergin merupakan kemasan sintesis dari pabrik Sandoz. Obat ini sering dipakai pada perdarahan postpartum, multipara postpartum, section caesarea, dan pada kasus-kasus yang disangka akan terjadi perdarahan postpartum. Cara pemberian melalui IV / IM, seperti pada hidramnion, gemeli, anak besar, operasi obstetric, dan pernah mengalami perdarahan postpartum. Cara pemberian bisa IV / IM intramural dan per infuse.
c. Chinine ( pil kina )
Kina berasal dari kulit kayu kina, banyak terdapat di Indonesia terutama dipakai untuk pengobatan malaria. Kerja obat ini memperkuat kontraksi rahim yang sudah ada, kemasannya yaitu sulfas chihine. Dulu dipakai pada khinine kuur dan steinse kuur.
d. Prostaglandin
Sekarang ini pemakaian PG dalam obstetric, terutama untuk pengeluaran isi rahim ( kehamilan ) kapan saja dalam masa kehamilan, telah banyak dipakai di luar negeri. Dimedan telah mulai dipakai untuk riset.
e. Morfin
Digunakan sebagai antidotum his yang kuat terus-menerus (tetania uteri).
f. Sandopart
Dibuat sintesis oleh Sandoz dan digunakan untuk stimulasi / induksi partus.
g. Oxsytocin drips
Terdiri atas :
 Syntocinon drips
 Pitocin drips
Untuk induksi partus dengan indikasi obstetric, dipakai 5-10 UI dalam 500 cc glukosa /dekstrosa 5 %. Pemberian drips ini harus diawasi setiap saat.Dosis awal 4 tetes per menit, kemudian dinaikkan tiap 10-15 menit hingga dikehendaki his yang adekuat, maksimum 40 tetes per menit. Syarat pemakaian obat ini harus diawasi serta dicatat DJJ tensi dan kontraksi.
Bahaya pemakaian uterus tonika :
 Tetania uteri
 Ruptura uteri
 Retensio plasentae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: