MELAKSANAKAN DETEKSI DINI TERHADAP KOMPLIKASI IBU DAN JANIN

A. Tanda-Tanda Dini Bahaya/Komplikasi Ibu Dan Janin Masa Kehamilan Muda

1. Perdarahan Pervaginam

Perdarahan pada kehamilan muda atau usia kehamilan di bawah 20 minggu, umumnya disebabkan oleh keguguran. Sekitar 10-12% kehamilan akan berakhir dengan keguguran yang pada umunya (60-80%) disebabkan oleh kelainan kromosom yang ditemui pada spermatozoa ataupun ovum. Penyebab yang sama dan menimbulkan gejala perdarahan pada kehamilan muda dan ukuran pembesaran uterus yang diatas normal, pada umumnya disebabkan oleh mola hidatidosa. Pada awal kehamilan, perdarahan yang tidak normal adalah yang merah, perdarahan yang banyak, atau perdarahan dengan nyeri. Perdarahan pada kehamilan muda dengan uji kehamilan yang tidak jelas, pembesaran uterus yang tidak sesuai (lebih kecil) dari usia kehamilan dan adanya massa di adneksa biasanya disebabkan oleh kehamilan ektopik.

Diagnosis dan penanganan

Perdarahan pervaginam pada usia kehamilan dini dapat di diagnosis sebagai berikut :

a. Abortus

1)   Abortus spontan adalah penghentian kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas (usia kehamilan 22 minggu). Tahap-tahap abortus spontan meliputi:

  • Abortus Imminens (kehamilan dapat berlanjut)
  • Abotus Insipiens (kehamilan tidak akan berlanjut dan akan berkembang menjadi abortus inkomplit/komplit)
  • Abortus Inkomplit (sebagai hasil konsepsi telah dikeluarkan)
  • Abortus Komplit (seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan )

2)   Abortus yang disengaja adalah suatu proses dihentikan kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas

3)   Abortus tidak aman adalah suatu prosedur yang dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman atau yang tidak memenuhi standar medis minimal atau keduanya

4)   Abortus Septik adalah abotus yang mengalami komplikasi berupa infeksi. Sepsis dapat berasal dari infeksi jika organisme penyebab naik dari saluran kemih bawah setelah abortus spontan atau abortus tidak aman. Sepsis  cenderung akan terjadi jika terdapat sisa hasil konsepsi atau terjadi penundaan dalam pengeluaran hasil konsepsi. Sepsis merupakan komplikasi yang  sering terjadi pada abortus tidak aman dengan menggunakan peralatan.

Penanganan

Jika dicurigai suatu abortus tidak aman terjadi, periksalah adanya tanda-tanda infeksi atau adanya perlukaan uterus, vagina dan usus dan melakukan irigasi vagina untuk mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, obat-obat local, atau bahan lainnya.

1)  Abortus Imminens

-       Tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total.

-       Jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual

-       Jika perdarahan berhenti: lakukan asuhan antenatal seperti biasa. Lakukan  penilaian jika perdarahan terjadi lagi.

-       Jika perdarahan terus berlangsung: nilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG). Lakukan konfirmasi  kemungkinan adanya penyebab lain. Perdarahan berlanjut, khususnya jika ditemui uterus yang lebih besar dari yang diharapkan, mungkin menunjukan kehamilan ganda atau mola.

-       Tidak perlu terapi hormonal (estrogen atau progestin) atau tokolitik (seperti salbultamol atau indometasin) karena obat-obat ini tudak dapat mencegah abortus.

2)  Abortus Insipiens

-       Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu, lakukan efakuasi uterus dengan Aspirasi Vakum manual (AVM). Jika efakuasi tidak dapat segera dilakukan :

-       berikan ergometrium 0,2 mg I.M.(diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu)

-       segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.

-       Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu:

-       Tunggu eksplusi spontan hasil konsepsi, kemudian evakuasi sisa-sisa hasil konsepsi

-       jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I.V. (garam fisiologik atau larutan Ringger Laktat) dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulasi hasil konsepsi.

-       Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.

3)  Abortus Inkomplit

-       jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu, evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang dikeluarkan melalui serviks. Jika perdarahan berhenti beri ergometrium 0,2 mg I.M. atau mistoprostol 400 mcg per oral.

-       Jika perdarahan banyak dan terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan :

-       Aspirasi Vakum Manual (AVM) merupakan metode evakuasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika AVM tidak tersedia

-       Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg I.M. (di ulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostal 400 mcg per oral (dalam di ulangi setelah 4 jam jika perlu).

-       Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:

  1. berikan infus oksitosin 20 unit dalam 50 ml cairan I.V. (garam fisiologik atau Ringger Laktat) dengan kecepatan 400 tetes par menit sampai terjadi eksfulsi hasil konsepsi.
  2. jika perlu berikaan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg)
  3. evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.

4)  Abortus Komplit

-       tidak perlu evakuasi lagi

-       observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan

-       apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg per hari selama 2 minggu, jika anemia berat berikan transfuse darah.

-       Konseling asuhan  pascakeguguran dan pemantauan lanjut.

b. Kehamilan Ektopik Terganggu

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus. Tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadi implintasi kehamilan ektopik (>90%). Tanda dan gejalanya sangatlah bervariasi tergantung pada pecah atau tidaknya kehamilan tersebut. Alat penting yang dapat digunakan untuk memdiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum di kombinasi dengan ultrasonografi. Jika diperoleh hasil darah yang tidak membeku, segera mulai penanganan.

Penanganan awal

-       jika fasilitas memungkunkan segera lakukan uji silang darah dan laparotomi. Jangan menunggu darah sebelum melakukan pembedahan.

-       Jika fasilitas tidak memungkinkan, segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dengan memperhatikan hal-hal yang di uraikan pada bagian penanganan awal

-       Pada laparotomi, eksplorasi kedua ovaria dan tuba falopii:

1)   Jika terjadi kerusakan pada tuba, lakukan salpingektomi (tuba yang berdarah dan hasil konsepsi di eksisi bersama-sama). Ini maerupakan terapi pilihan pada sebagian besar kasus.

2)   Jika kerusakan pada tuba kecil lakukan salpingostomi (hasil konsepsi dikeluarkan, tuba dipertahankan).Hal ini hanya dilakukan jika konserpasi kesuburan merupakan hal yang penting untuk ibu tersebut, karena resiko kehamilan ektopit berikutnya cukup tinggi.

2. Hiperemesis Gravidarum

Mual dan muntah adalah gejala yang sering ditemukan pada kehamilan trimester I. Mual biasa terjadi pada pagi hari, gejala ini biasa terjadi 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung selama 10 minggu. Perasaan mual ini karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum. Mual dan muntah yang sampai mengganggu aktifitas sehari-hari (terus-menerus) dan keadaan umum menjadi lebih buruk, seperti ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastium dinamakan Hiperemesis Gravidarum (Wiknjosastro, 2002).

Gejala-gejala yang terjadi pada penderita hiperemesis gravidarum:

  1. Muntah yang hebat
  2. Haus
  3. Dehidrasi
  4. Berat badan turun
  5. Keadaan umum mundur
  6. Kenaikan suhu
  7. Kesadaran menurun
  8. Uji laboratorium menunjukan: protein, acetone, urobilinogen, porhyrin dalam urin bertambah

Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan:

  1. Faktor predisposisi yang sering ditemukan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormone memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormone Korionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
  2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik.
  3. Alergi, sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai faktor organik.
  4. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup. Tidak jarang memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekuensi muntah klien.

Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Secara klinis, hiperemesis gravidarum dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu :

  1. Tingkat I

Muntah yang terus-menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman,
berat-badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan,
lendir dan sedikit empedu kemudian hanya lendir, cairan empedu dan terakhir
keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 kali per menit dan tekanan darah
sistole menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang dan urin
masih normal.

  1. Tingkat II

Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan, haus hebat,
subfebril, nadi cepat dan lebih 100-140 kali per menit, tekanan darah sistole
kurang 80 mmHg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus ada, aseton
ada, bilirubin ada dan berat-badan cepat menurun.

  1. Tingkat III

Gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, ikterus,
sianosis, nistagmus, gangguan jantung, bilirubin ada, dan proteinuria.

Diagnosis

Diagnosis hyperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun demikian harus dipikirkan dengan penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapatpula memberikan gejala muntah.

Hyperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin sehingga pengobatan perlu segera diberikan.

Pengelolaan

Pencegahan terhadap hyperemesis gravidarium perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kkehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, maka di dianjurkan:

-           Mengubah makan sehari-hari dengan makanan dengan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering.

-          Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur

-          Di anjurkan untuk makan roti kering dengan the hangat

-          Hindari makanan yang berminyak dan berbau lemak

-          Makanan dan minuman disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin

-          Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin

-          Hindari kekurangan karbohidrat

-          Di anjurkan makanan yang banyak mengandung gula

3. Nyeri perut bagian bawah

Nyeri perut ini terjadi pada kehamilan 22 minggu. Hal ini mungkin gejala utama pada kehamilan etopik dan tanda gejala abortus antara lain nyeri abdomen bawah, nyeri lepas, uterus terasa lemas, perdarahan berlanjut, lemah, lesu, demam, sekret vagina berbau, sekret & pus dari serviks, dan nyeri goyang serviks. Komplikasinya adalah infeksi / sepsis. Penanganannya adalah mulai memberikan antibiotik sesegera mungkin sebelum melakukan aspirasi vakum manual. Antibiotiknya berupa ampisilin 2 gr I.V. tiap 6 jam ditambah gentamisin 5 mg/kgbb IV tiap 24 jam ditambah metronidazol 500 mg I.V. tiap 8 jam sampai ibu bebas demam 48 jam.

Tanda dan gejala lainnya adalah nyeri / kaku pada abdomen, nyeri lepas, distensi abdomen, abdomen terasa tegang & keras, nyeri bahu, mual-muntah, dan demam. Komplikasinya adalah perlukaan uterus, vagina atau usus. Penanganannya yaitu lakukan laparotomi untuk memperbaiki perlukaan dan lakukan aspirasi vakum manual secara berurutan. Mintalah bantuan lebih lanjut jika dibutuhkan.

Penanganan Umum

-       Lakukan segera pemeriksaan keadaan umum meliputi tanda vital (nadi,tensi, respirasi dan suhu)

-       Jika dicurigai syok, mulailah pengobatan. Sekalipun gejala syok tidak jelas, waspada dan evalluasi ketat karena keadaan dapat memburuk dengan cepat.

-       Jika ada syok, segera terapi dengan baik.

Catatan: Apendisitis harus dicurigai pada tiap ibu yang nyeri perut, sebagai diagnosis deverensial kehamilan etopik, solusio plasenta, kista ovarium putaran tangkai, dan pielonefritis.

Penanganan

Kista ovarium

Kista ovarium dapat menimbulkan nyeri akibat terpuntir atau pecah. Kista ovarium dapat mengalami putaran tungkai atau pecah pada trimester I.

  • Jika ibu mengalami nyeri perut hebat, dapat diduga putaran tungkai atau pecah. Lakukan segera lerarotomi.

Catatan: jika pada laparotomi diduga ada keganasan (bagian padat, pertumbuhan/papil pada dinding tumor), tumor harus diperiksa di bagian patologi, lakukan rujukan ke rumah sakit untuk penanganan lanjut.

  • Jika tumor besarnya 10 cm atau lebih dan asimtomatik:

ü  Jika ditemukan pada trimester 1, observasi pperkembangan dan komplikasi

ü  Jika ditemukan pada trimester 2, lakukan laparotomi untuk pengangkatan.

  • Jika tumor besarnya 5-10 cm, lakukan observasi.mungkin laparotomi diperlukan jika kista membesar dan menetap.
  • Jika tumor kurang dari 5 cm, biasanya tumor mmengecil dan tidak memerlukan terapi.

Apendisitis

  • Berikan antibiotika kombinasi sebelum dan setelah pembedahan sampai 48 jam bebas demam:

ü  Ampisilin 2 g I.V. tiap 6 jam

ü  Ditambah gentamisin 5mg/kg BB I.V. tiap 24 jam

ü  Ditambah metronidazol 500 mg I.V. tiap 8 jam

  • Lakukan laparotomi eksploratif (tidak pandang usia gestasi) dan apendikstomi, jika benar Apendisitis.

Catatan: menunda diagnosis dan terapi mengakibatkan pecahnya apendiks dan menimbulkan peritonitis umum.

  • Jika terjadi peritonitis (demam, abdomen akut, nyeri perut) berikan antibiotika untuk peritonitis.

Catatan: adanya peritonitismenimbulkan resikoabortus atau persalinan preterm.

  • Jika terjadi nyeri hebat, berikan petidin 1mg/kg BB I.M. (tidak lebih dari 100 mg) I.M atau I.V. pelan-pelan atau berikan morfin 0,1mg/kg BB I.M.
  • Tokolitik dapat diberikan untuk mencegah persalinan preterm.

B. Tanda-Tanda Dini Bahaya/Komplikasi Ibu Dan Janin Masa Kehamilan Lanjut    

1. Perdarahan Pervaginam

Perdarahan vagina dalam kehamilan adalah jarang yang normal. Perdarahan pada kehamilan lanjut atau diatas 20 minggu pada umunya disebabkan oleh plasenta previa. Perdarahan yang terjadi sangat terkait dengan luas plasenta dan kondisi segmen bawah rahim yang menjadi tempat implementasi plasenta tersebut. Pada plasenta yang tipis dan menutupi sebagian besar plasenta maka umumnya terjadi perdarahan bercak berulang dan apabila segmen bawah rahim mulai terbentuk disertai dengan sedikit penurunan bagian terbawah janin maka perdarahan mulai meningkat hingga tingkatan yang dapat membahayakan keselamatan ibu.

Plasenta yang tebal yang menutupi seluruh jalan lahir dapat menimbulkan perdarahan hebat tanpa didahului oleh perdsarahan bercak atau berulang sebelumnya. Plasenta previa menjadi peyebab dari 25% kasus perdarahan antepartum. Bila mendekati saat persalinan, perdarahan dapat disebabkan oleh solusio plasenta (40%) atau vasa previa (5%) dari keseluruhan kasus perdarahan antepartum.  Gejala pada kehamilan ini, perdarahan merah segar, banyak, dan kadang -kadang, tetapi tidak selalu, disertai dengan rasa nyeri.

 

a. Plasenta Praevia

Adalah  plasenta yang implantasinya tidak normal ialah rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum. Implantasi placenta yang normal ialah pada dinding depan atau dinding belakang rahim di daerah fundus uteri.

Plasenta praevia ada tiga macam :

1)   Placenta praevia totalis : seluruh ostium internum tertutup oleh placenta

2)   Placenta praevia lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh placenta.

3)   Placenta praevia marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan placenta.

Placenta praevia cukup sering kita jumpai dan pada tiap perdarahan antepartum kemungkinan placenta praevia harus didahulukan. Placenta praevia lebih sering terdapat pada multi gravidae dari pada premegravidae dan pada umur yang lanjut.

Gejala-gejala

1)   Gejala yang terpenting ialah perdarahan tanpa nyeri

2)   Kepala anak sangat tinggi

3)   Karena hal tersebut juga karena ukuran panjang rahim berkurang, maka pada placenta praevia lebih sering terdapat kelainan letak.

Jika perdarahan disebabkan oleh perdarahan praevia atau placenta letak rendah maka robekan selaput harus marginal (kalau persalinan terjadi pervaginam).

Bahaya untuk ibu pada placenta praevia ialah:

-       Perdarahan yang hebat

-       Infeksi stripsesis

-       Imboli udara (jarang)

Bahaya untuk anak:

-       Hipoksia

-       Perdarahan dan syok

Penanganan placenta praevia

Perhatian : tidak dianjurkan untuk mmelakukan pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum sebelum tersedia persiapan untuk seksio caesarea. Pemeriksaan inspekulo secara hati-hati, dapat menentukan sumber perdarahan berasal dari kanalis servisis atau sumber lain (servisitis, polip, keganasan, laserasi atau trauma). Meskipun demikian, adanya kelainan di atas tidak menyingkirkan diagnosis placenta praevia.

-       Perbaikan kekurangan atau darah dengan memberikan infus cairan I.V. (NaCl 0,9% atau Ringger Laktat)

-       Lakukan penilaian jumlah perdarahan, jika perdarahan banyak dan berlangsung terus, persiapkan seksio saesarea tanpa memperhitungkan usia kehamilan/premature

-       Jika perdarahan sedikit dan berhenti pada fetus hidup tetapi premature, pertimbangkan terapi ekspektatif sampai persalinan atau terjadi perdarahan banyak.

Konfirmasi diagnosis

Ultrasonografi

-       Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan implantasi placenta dan jarak tepi placenta terhadap ostium. Jika diagnosis placenta praevia telah ditegakkan dan janin premature, rencanakan persalinan

-       Jka pemeriksaan USG tidak memungkinkan dan kehamilan kurang dari 37 minggu lakukan penanganan placenta praevia sampai kehamilan 37 minggu.

b. Solutio Placenta

   Solutio plasenta adalah pelepasan plasenta sebelum waktunya. Placenta itu secara normal terlepas setelah anak lahir jadi placenta terlepas sebelum waktunya  anak lahir. Akan tetapi pelepasan placenta sebelum minggu ke-22 disebut abortus dan kalau terjadi pelepasan placenta pada placenta yang rendah implantasinya maka bukan disebut solutio placenta tapi placenta praevia.

Pada solutio placenta darah dari tempat pelepasan mencari jalan keluar antara selaput janin dan dinding rahim dan akhirnya keluar dari serviks terjadilah perdarahan keluar atau perdarahan Nampak.

Kadang-kadang darah tidak keluar tapi berkumpul dibelakang placenta membentuk haematom retroplacentair. Perdarahan semacam ini disebut perdarahan kedalam atau perdarahan tersembunyi. Kadang-kadang darah masuk kedalam ruang amnion sehingga perdarahan tetap tersembunyi. Solutio placenta dengan perdarahan tersembunyi menimbulkan tanda yang lebih khas dan pada umumnya lebih berbahaya dari pada solutio placenta dengan perdarahan keluar. Perdarahan dari solution placenta terutama berasal dari ibu tapi dapat juga berasal dari anak.

Etiologi

Sebab primer solutio placenta belum jelas, tetapi diduga bahwa hal-hal yang tersebut di bawah dapat menyebabkan :

-       Hypertensi essentialis atau pre-eklampsia

-       Tali pusat yang pendek

-       Trauma

-       Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior

-       Uterus yang sangat mengecil (hydromnion,gamelli)

Di samping itu ada pengaruh:

-       Umur lanjut

-       Mutiparitas

-       Defisiensi ac. folicum

Solutio placenta dimulai dengan perdarahan dalam desidua basalis, terjadilah haematom dalam desidua  yang mengangkat lapisan-lapisan di atasnya. Haematum ini makin lama makin besar, hingga makin lama makin besar bagian plasenta yang terlepas dan tak berfaal. Akhirnya haematom mencapai pinggir plasenta dan mengalir keluar antara selaput janin dan dinding rahim.

Gejala-gejala

-       Perdarahan yang disertai nyeri, juga diluar his

-       Anaemi dan syok : beratnya anaemi dan syok sering tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar

-       Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul dibelakang placenta hingga rahim teregang (uterus en bois).

-       Palpasi sukar karena rahim keras.

-       Fundus uteri makin lama makin naik.

-       Bunyi jantung biasanya tidak ada.

-       Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah)

-       Sering ada proteinuria karena disertai toxsaenia

Diagnosis didasarkan atas adanya perdarahan antepartum yang bersifat nyeri, uterus yang tegang dan nyeri dan setelah placenta lahir atas adanya inpressi (cekungan) pada permukaan maternal placenta akibat tekanan haematom retroplacentair.

Penanganan solutio placenta

  1. Lakukan uji pembekuan darah. Kegagalan terbentuknya bekuan darah setelah 7 menit atau terbentuknya bekuan darah lunak yang mudah terpecah menunjukkan adanya koagulopati
  2. Transfusi darah segar
  3. Jika terjadi perdarahan hebat (nyata atau tersembunyi), lakukan persalinan segera, jika :

-        pembukaan serviks lengkap, persalinan dengan ekstraksi vacum

-       Pembukaan serviks belum lengkap, persalinan dengan seksio saesarea.

Catatan: pada setiap kasus solutio placenta waspadalah terhadap kemungkinan pada perdarahan pasca persalinan

  1. Jika perdarahan ringan atau sedang (dimana ibu tidak berada dalam bahaya) tindakan bergantung pada denyut jantung janin

-       DJJ normal atau tidak terdengar, pecahkan ketuban dengan kokher

  • Jika kontrakdi jelek, perbaiki dengan pemberian oksitosin
  • Jika serviks kenyal, tebal, dan tertutup, lakukan seksio saesarea

-       DJJ abnormal (kurang dari 100 atau lebih dari 180 per menit) :

  • lakukan persalinan pervaginam segera,
  • Jika persalinan pervaginam tidak memungkinkan, maka akhiri persalinan dengan seksio saesarae.

Perbedaan antara solutio plasenta dengan plasenta previa:

1). Solutio placentae

-       Perdarahan dengan nyeri

-       Perdarahan segera disusul partus

-       Perdarahan keluar hanya sedikit

-       Palpasi sukar

-       Bunyi jantung anak biasanya tidak ada

-       Pada toucher tidak teraba placenta tapi ketuban yang terus menerus tegang.

-       Ada impressi pada jaringan placenta karena haematom

2). Plasenta praevia

- perdarahan tanpa nyeri

- Perdarahan berulang-ulang sebelum partus

- perdarah keluar banyak

- bagian depan tinggi

- biasanya ada

- teraba jaringan placenta

- robekan selaput marginal

 

c. Ruptura uteri

Perdarahan dapat terjadi intraabdominal atau melalui vagina kecuali jika kepala janin menutupi rongga panggul. Perdarahan dari ruktura uteri pada ligamentum latum tidak akan menyebabkan perdarahan intraabdominal.

Penanganannya

-       Perbaiki kehilangan darah dengan pemberian infus I.V. cairan (NaCl 0,9% atau Ringger laktat) sebelum tindakan pembedahan.

-       Lakukan seksio saesarea dan lahirkan placenta segera setelah kondisi stabil

-       Jika uterus dapat diperbaiki dengan resiki operasi lebih rendah daripada resiko pada histerektomi dan ujung reptura uterus tidak nekrosis lakukan histerorafi. Tindakan ini akan mengurangi waktu dan kehilangan darah saat histeroktomi

-       Jika uterus tidak dapat diperbaiki lakukan histerektomi supravaginal atau histerektomi total jika didapatkan robekan sampai serviks dan vagina.

 

d. Koagulapati (kegagalan pembekuan darah)

koagulapati dapat menjadi penyebab dan akibat perdarahan yang hebat. Kondisi ini dapat dipicu oleh solutio placenta, kematian janin dalam uterus, eklampsia, emboli air ketuban, dan banyak penyebab lain. Gambaran klinisnya bervariasi mulai dari perdarahan hebat, dengan atau tanpa komplikasi thrombosis sampai pada keadaan klinis yang stabil yang hanya terdeteksi oleh tes laboratoriu.

Catatan: pada banyak kehilangan darah yang akut, perkembangan menuju koaglupati dapat dicegah jika volume darah dipulihkan segera dengan cairan infuse (NaCl atau Ringger Laktat).

  • Tangani kemungkinan penyebab kegagalan pembekuan ini :
  1. Solutio placenta (seperti penanganan solution placenta)
  2. Eklampsia ( seperti oenanganan eklampsia)
  • Gunakan produk darah untuk mengontrol perdarahan :
  1. Berikan darah lengkap segar,jika tersedia untuk menggantikan faktor pembekuan dan sel darah merah
  2. Jika darah lengkap segar tidak tersedia, pilih salah satu dibawah ini sesuai berdasarkan ketersediaannya :
  3. Plasma beku segar untuk menggantikan faktor pembekuan (15 ml per kg berat badan)
  4. Sel darah merah packed (atau yang tersedimentasi) untuk penggantian sel darah merah
  5. Kriopresipitat untuk menggantikan fibrinogen
  6.   Konsentrasi trombosit (jika perdarahan berlanjut dan trombosit dibawah 20.000)
  1. e.    Emboli Air Ketuban

Syok yang berat sewaktu persalinan selain oleh placenta praevia dan solutio placenta dapat disebkan pula oleh emboli air ketuban. Setelah ketuban pecah ada kemingkinan bahwa air ketuban masuk kedalam vena-vena tempat placenta, endoservix, atau luka lainnya ( SC, luka ruktura).

Air ketuban mengandung lanugo, vernix caseosa dan miconium yang dapat menimbulkan emboli. Benda-benda halus ini menyumbat kapiler paru-paru dan menimbulkan infrarkt paru-paru dan dilatasi jantung darah. Emboli air ketuban dapat menyebabkan kematian tiba-tiba sewaktu atau beberapa waktu sesudah persalinan.

Kemungkinan emboli air ketuban terjadi kalau :

-       Ketuban sudah pecah

-       His kuat

-       Pembuluh darah yang terbuka (SC reptura uteri).

Gejala-gejala

Sesak nafas yang sekonyong-konyong, cyanosis, oedema paru-paru, syok dan relaksasi otot-otot rahim dengan perdarahan postpartum. Syok terutama disebabkan relaksi anaphylactis terhadap adanya bahan-bahan air tuban dalam darah. Terutama emboli meconium bersifat lethal juga terjadi koagulopati karena disseminated intravascular klotting.

Pengobatan

Dengan pemberian tranfusi darah segar, fibrinogen, oksigen, dan heparin atau trasylol.

2. Sakit kepala yang hebat

Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan, dan seringkali merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah sakit kepala hebat (edema otak) yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat. Kadan-kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan adalah gejala dari pre-eklampsia (Pusdiknakes, 2003).

Masalah

-       wanita hamil atau baru melahirkan mengeluh nyeri kepala hebat atau penglihatan kabur

-       wanita hamil atau baru melahirkan menderita kejang atau tidak sadar

Penanganan umum

-       jika ibu tidak sadar atau kejang mintalah pertolongan. Segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat.

-       segera lakukan penilaian terhadap keadaan umum termasuk tanda vital (nadi, tekanan darah, dan pernapasan) sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarganya

-       jika pasien tidak bernafas atau pernafasan dangkal:

  1. periksa dan bebaskan jalan napas
  2. jka tidak bernapas, mulai ventilasi dengan masker dan balon
  3. intubasi jika perlu
  4. jika pasien bernapas, beri oksigen 4-6 liter per menit melalui masker atau kanulanasal

-       jika pasien tidak sadar/koma:

  1. bebaskan jalan nafas
  2. baringkan pada sisi kiri
  3. ukur suhu
  4. periksa apakah ada kaku tengkuk

3. Penglihatan kabur

Banyak anggota tubuh yang ikut berubah saat hamil, termasuk mata. Tak heran bila ibu hamil mengeluh kemampuan penglihatannya terganggu. Ada yang mengeluh lebih silau jika terkena cahaya, tidak nyaman dengan kacamata atau lensa kontaknya, pandangannya agak kabur, ada titik hitam di penglihatan, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi pada mata ini, disebabkan adanya perubahan fisiologis maupun patologis. (Dr. Rini Hersetyati, SpM., dari Klinik Mata Nusantara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat)

Fisiologis & Patologis Penglihatan Kabur

Perubahan Fisiologis

Terjadi pada kornea: kornea akan lebih sensitif dan ketebalannya berubah. Pada keadaan ini menyebabkan orang yang memiliki kelainan refraksi (rabun jauh atau rabun dekat) akan merasakan tidak nyaman dengan kacamatanya. Keluhan juga terjadi pada pengguna lensa kontak, biasanya akan terjadi ketidaknyamanan atau mata sering merah.

Karena hal ini merupakan perubahan fisiologis selama kehamilan, tentu saja setelah melahirkan keadaan akan kembali normal. Untuk mengatasi hal­hal tersebut disarankan pada saat hamil sebaiknya pengguna lensa kontak menggunakan kacamata dahulu. Bila terjadi perubahan ukuran kacamata, apabila sangat mengganggu, ukuran kacamata boleh diganti tetapi yang perlu diingat bahwa setelah masa kehamilan berakhir kemungkinan besar ukuran kacamata akan berubah lagi.

Perubahan Patologis

Yaitu, terjadinya perubahan yang menyebabkan gangguan fungsi. Pada keadaan ini, gangguan yang terjadi bisa membaik setelah berakhirnya kehamilan atau bisa juga tidak membaik, ibu tetap mengalami gangguan mata meskipun sudah tidak hamil lagi.

Perubahan patologis yang sering terjadi pada kehamilan adalah pembengkakan di pusat penglihatan (macula). Ini terjadi karena kebocoran di lapisan saraf mata (retina) yang kemudian cairannya terkumpul di pusat penglihatan, istilah medisnya, Central Serous Retinophaty. Umumnya, gejala yang dikeluhkan oleh ibu adalah penurunan tajam penglihatan atau penglihatan bagian tengah lebih kabur. Kasus ini akan membaik walapun tanpa pengobatan, mengingat pemberian obat pada ibu hamil juga berisiko pada janin yang dikandung.

Perubahan patologis juga bisa diakibatkan oleh beberapa penyakit pemicu, seperti:

a. Preeklamsia atau Eklamsia

Pada beberapa kasus kehamilan dengan preeklamsia/eklamsia, bisa terjadi penumpukan cairan di bawah lapisan saraf mata secara menyeluruh (exudative retinal detachment), sehingga menyebabkan ketajaman penglihatan sangat turun. Umumnya, setelah kehamilan selesai dan eklamsia teratasi, dengan sendirinya cairan akan hilang dan lapisan saraf kembali normal. Tetapi tak menutup kemungkinan pula kalau ketajaman penglihatan tidak kembali seperti semula, bahkan ada beberapa kasus sudah keburu mengalami kebutaan.

Untuk mengatasinya, biasanya tak ada penanganan khusus di bagian mata, misalnya dengan memberikan obat atau terapi. Yang diatasi adalah masalah eklamsianya. Ini merupakan jalan terbaik, selain untuk kesehatan mata juga untuk kesehatan secara umum mengingat eklamsia berbahaya bagi ibu maupun janin. Jika eklamsia tak ditangani dengan baik, bukan saja mengakibatkan gangguan pada mata, melainkan juga jantung, metabolisme tubuh, sistem hormonal, bahkan kelainan pada pertumbuhan janin.

b. Rabun Jauh

Ada ibu yang tak bisa melihat jelas benda-benda dalam jarak cukup jauh, disebut dengan rabun jauh atau mata minus. Kadar minus setiap ibu sangat bervariasi, ada yang ringan hingga berat. Sebaiknya, bila kita tahu mengalami mata minus, lakukanlah pemeriksaan mata lengkap. Sebab hal ini akan terkait dengan proses persalinan, apakah bisa dilakukan normal atau tidak.

Pemeriksaan mata minus biasanya dilakukan dengan memberikan obat tetes mata untuk melebarkan pupil mata. Dari situ dokter dapat melihat keadaan retinanya. Apabila tak ditemukan robekan atau keadaan yang bisa menyebabkan retina robek, biasanya tak dilakukan terapi dan pasien boleh melakukan persalinan normal. Tetapi bila pada saat pemeriksaan retina didapatkan robekan retina, maka dokter akan melakukan laser yang tujuannya memperkuat retina sehingga lepasnya retina dapat dicegah. Disarankan memeriksa retina 2­3 bulan sebelum melahirkan supaya bila terdapat kelainan dapat ditangani sebelum persalinan.

Orang dengan rabun jauh memiliki risiko lepasnya retina lebih besar daripada orang normal karena retina pada orang rabun jauh sering mengalami penipisan. Yang penting dilakukan, pemeriksaan retina secara berkala. Apalagi bila merasa melihat kilatan (flashes) di dalam bola mata, serta adanya bayangan seperti benang, sarang laba-laba, atau nyamuk yang mengambang di dalam bola mata dan selalu ikut ke arah mana mata bergerak, segera pergi ke dokter mata untuk diperiksa retinanya. Gejala tersebut bisa merupakan tanda awal terjadinya robekan retina. Jadi, sebenarnya pada orang dengan rabun jauh bisa atau tidaknya melahirkan secara normal tanpa operasi, tidak tergantung pada besarnya minus tetapi keadaan retinanya.

Untuk mengatasi gangguan mata, yang terbaik adalah berkonsultasi ke dokter ahli mata, agar pengobatan bisa dilakukan secara tepat dan efektif. Dengan bantuan dokter, masalah bisa diatasi, dari akar penyebab seperti diabetes, preeklamsi, hingga solusi yang harus dilakukan. Ditambah lagi ibu sedang hamil sehingga harus sangat berhati-hati mengonsumsi obat. Minum obat sembarangan dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan janin.

Namun begitu, ibu bisa melakukan tindakan di rumah. Misal, menjaga kondisi tubuh tetap prima dengan asupan bergizi dan seimbang, olahraga untuk ibu hamil, dan menjaga kondisi psikis, supaya kehamilan bisa berjalan dengan baik dan lancar. Tentu, penderita diabetes atau preeklamsia harus melakukan diet secara terkontrol. Jika tak boleh mengonsumsi gula terlalu banyak, garam berlebihan, atau makanan-makanan lain, ya harus dilakukan supaya penyakit penyerta ini tidak semakin parah yang berdampak pada mata.

Hal lain, lakukan komunikasi yang baik dengan dokter yang bersangkutan. Jika ada keluhan, gangguan mata yang semakin berat misalnya, segeralah berkonsultasi, entah lewat telepon atau membuat perjanjian segera. Intinya, menyadari ada yang tak biasa, maka kita perlu mempersiapkan diri untuk melakukan hal terbaik. (Irfan Hasuki. Dok. Klinik Mata Nusantara)

  1. 4.      HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan nifas. Golongan penyakit ini ditandai dengan hipertensi dan kadang-kadang disertai proteinuria, oedem, convulsi, koma atau gejala-gejala lain.

.Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyebab kematian neonatal. Kematian bayi ini terutama disebabkan partus praematurus yang merupakan akibat dari penyakit hipertensi.

Klasifikasi menurut American Committee and Maternal Walfare

  1. Hipertensi yang hanya terjadi dalam kehamilan, yaitu preeklampsi dan eklamsi. Diagnose dibuat atas dasar hipertensi dengan proteinuria atau oedem atau kedua-duanya pada wanita hamil setelah 22 minggu.
  2. Hipertensi yang kronis (apapun sebabnya). Diagnose dibuat atas adanya hipertensi sebelum minggu ke 20 dari kehamilan dan hipertensi ini tetap setelah kehamilan berakhir.
  3. Preeklampsi dan eklamsi yang terjadi atas dasar hipertensi yang kronis. Pasien dengan hipertensi yang kronis sering memberatkan penyakitnya dalam kehamilan, dengan gejala-gejala hipertensi naik, proteinuri, oedem dan kelainan retina.
  4. Transient hypertension. Diagnose dibuat kalau timbul hipertensi dalam kehamilan atau dalam 24 jam pertama dari wanita yang tadinya normotensip dan yang hilang dalam 10 hari postpartum.

Klasifikasi hipertensi dalam kehamilan meliputi:

  1. Hipertensi (tanpa proteinuria atau edema)
  2. Pre-eklampsi ringan
  3. Pre-eklampsi berat
  4. Eklamsi

Catatan :

  • Pre-eklampsi ringan sering tanpa gejala
  • Proteinuria yang meningkat merupakan tanda memburuknya pre-eklampsia
  • Edema tungkai bukan merupakan tanda yang pasti pada pre-eklampsi
  • Per-eklampsi ringan dapat dengan cepat meningkat menjadi per-eklampsi berat. Resiko menjadi eklampsi sangat besar pada pre-eklampsi berat.
  • Kejang:

-   Dapat terjadi tanpa hubungan dengan beratnya hipertensi

-       Sukar diramalkan, dapat etrjadi tanpa adanya hiperrefleksia, nyeri kepala atau gangguan penglihatan

-       Pada 25% kasus terjadi pad pasca persalinan

-       Dapat terjadi berulang-ulang sehingga dapat berakhir dengan kematian

-       Dapat diikuti dengan koma

Penaganana Kasus Hipertensi Dalam Kehamilan

Penanganan hipertensi dalam kehamilan.

  1. Pembatasan kalori, sayuran dan garam tidak dapat mencegah hipertensi dalam kehamilan bahkan dapat berbahaya bagi janin
  2. Manfaat aspirin, kalsium, dan obat-obat  penceggah hipertensi dalam kehamilan belum terbukti
  3. Deteksi dini dan penanganan ibu hamil dengan faktor-faktor resiko sangat penting pada penanganan hipertensi dalam kehamilan dan pencegahan kejang. Follow up teratur dan nasihat yang jelas bilamana pasien harus kembali. Suami dan anggota keluarga lainnya harus diberi penjelasan tentang tanda-tanda hipertensi dalam kehamilan dan perlunya dukungan social atau moral kepada pasien.

Hipertensi karena kehamilan tanpa proteinuria

Tangani secara rawat jalan:

  1. Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), dan kondisi janin setiap  minggu
  2. Jika tekanan darah meningkat, tangani sebai pre-eklampsi ringan
  3. Jika kondisi janin memburuk atau pertumbuhan janin terlambat, rawat untuk penilaian kesehatan janin
  4. Beritahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala per-eklampsi atau eklampsi
  5. Jika tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal.

Pre-eklampsi ringan

  1. Pada kehamilan kurang dari 37 minggu

Jika belum ada perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan:

  1. Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), reflex dan kondisi lain
  2. Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya pre-eklampsi dan eklampsi
  3. Lebih banyak istirahat
  4. Diet biasa (ttidak perlu diet rendah garam
  5. Tidak perlu diberi obat-obatan
  6. Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit:
  • Diet  biasa
  • Pantauu tekanan darah 2 kali sehari dan urin (untuk proteinuria) 1 kalli sehari
  • Tidak perlu diberri obat-obatan
  • Tidak perlu diuritik kecuali jika tidak terdapat edema paru, dekompensasi kodis, atau gagal ginjal akut
  • Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan:

ü Nasihatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda pre-eklampsi berat

ü Control 2 kali seminggu untuk memantau tekanan darah, urin, keadaan janin, serta gejala pre-eklampsi berat

ü Jika tekanan diastole naik kembali, rawat kembali

  • Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan tetap dirawat. Lanjutkan penanganan dan obsesvasi kesehatan janin.
  • Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan. Jika tidak rawat sampai aterm.
  • Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai pre-eklampsi berat
  1. Kehamilan lebih dari 37 minggu
    1. Jika servik matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin
    2. Jika servik belum matang, lakukan pematangan dengan prostaglandid atau kateter fole atau lakukan seksio sesarea.

Pre-eklampsi berat dan eklampsi

Penanganan pre-eklampsi berat dan eklampsi sama, kecuali bahwa persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsi. Semua kasus pre-eklampsi berat harus ditangani secara aktif. Penanganan konservatif tidak dianjurkan karena gejala dan tanda eklampsi seperti hiperrefleksia dan gangguan penglihatan sering tidak sahi.

Penanganan kejang:

  1. Beri obat anti konvulsan
  2. Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedotan, masker balon dan oksigen)
  3. Beri oksigen 4-6 liter/menit
  4. Lindungi pasien dari kemungkinan trauma, tetapi jangan diikat terlalu keras
  5. Baringkan pasien pada sisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi
  6. Setelah kejang, aspirasi mulut dan tenggorokan tidak perlu.

Penanganan umum:

  1. Jika tekanan diastole tetap lebih dari 110 mmHg, berikan obat antihipertensi, sampai tekanan diastolic diantara 90 – 100 mmHg
  2. Pasang infuse dengan jarum besar (16 gauge atau lebih besar)
  3. Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan
  4. Kateterisasi urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria
  5. Jika jumlah urin kurang dari 30 ml/jam:

-          Hentikan magnesium sulfat (MgSO4) dan berikan cairan I.V. (NaCl 0,9 % atau Ringger laktat) pada kecepatan 1L/8jam

-          Pantau kemungkinan edema paru

  1. Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi muntah dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin
  2. Observasi tanda-tanda vital, reflex, dan denyut jantuung janin setiap jam
  3. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru
  4. Hentikan pemberian I.V. dan  berikan diuretic, misalnya furosemid 40mg I.V. sekali saja jika ada edema paru
  5. Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan sederhana (bedside clotting test). Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulo

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.

Proteinuria

Proteinuria adalah protein yang lebih dari 0,3 g/l dalam urine 24 jam atau lebih dari 1 g/l pada urine yang sembarangan.

Urine di ambil untuk pemeriksaan harus urine yang bersih atau urine yang diperoleh dengan penyadapan. Proteinuria ini harus ada pada 2 hari berturut-turut atau lebih.

Proteinuria biasanya ditemukan pada pre-eklampsia, rupanya dikarenakan vasospasnum pembuluh-pembuluh darah ginjal.

Proteinuria biasanya timbul lebih lambat dari hyperemesis dan tambah berat.

5. Keluar cairan pervaginam

Adalah keluarnya air ketuban sebelum waktunya yaitu ketuban pecah sebelum persalinan berlangsung (kehamilan 22 minggu) yang disebabkan karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uteri atau oleh kedua faktor tersebut, juga karena adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan servik dan penilaiannya ditentukan dengan adanya cairan ketuban di vagina. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (nitrazin test) merah menjadi biru (Saifuddin, 2002).

  1. Ketuban pecah dini

Masalah

-          keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu

-          ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung

-          pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm

Penanganan umum

-          konfirmasi usia kehamilan, kalau ada dengan USG.

-          Lakukan pemeriksaan inspekulo (dengan speculum DTT) untuk menilai cairan yang keluar (jumlah,warna,bau) dan membedakannya dengan urine.

-          Jika ibu mengeluh perdarahan pada akhir kehamilan (setelah 22 minggu), jangan lakukan pemeriksaan secara digital

-          Tentukan ada tidaknya infeksi

-          Tentukan tanda-tanda inpartu

Penanganan khusus Ketuban Pecah Dini (KPD)

Konfirmasi diagnosis

-          Bau cairan ketuban yang khas

-          Jika keluarnya cairan ketuban sedikit-dikitnya, tamping cairan yang keluar dan nilai 1 jam kemudian.

-          Dengan speculum DTT lakukan pemeriksaan inspekulo. Nilai apakah cairan keluar melalui ostium uteri atau terkumpul di fornix posterior.

-          Jangan lakukan pemeriksaan dalam dengan jari, karena tidak membantu diagnosis dan dapat menimbulkan infeksi

-          Tes lakmus (tes nitrazin). Jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya cairan ketuban (alkalis). Darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan yang positif palsu

-          Tes pakis, dengan meneteskan cairan ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan Kristal cairan amnion dan gambaran daun pakis.

Penanganan

-          Rawat di rumah sakit

-          Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solutio placenta

-          Jika ada tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau), berikan antibiotika sama halnya jika terjadi amnionitis

-          Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu :

  1. Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin. Ampisili 4×500 mg selama 7 hari ditambah eritromisin 200 mg per oral 3x per hari selama 7 hari
  2. Berikan kortikosteroid kepada ibu untuk memperbaiki kematangan paru janin. Berikan betametason 12 mg I.M. dalam 2 dosis setia 12 jam atau Dexametason 6 mg I.M. dalam 4 dosis setiap 6 jam dan jangan berikan kortikostiroidjika ada infeksi.
  3. Lakukan persalinan pada kehamilan 37 minggu
  4. Jika terdapat his dan darah lender, kemungkinan terjadi persalinan preterm.

-          Jika tidak terdapat infeksi dan kehamilan > 37 minggu :

  1. Jika ketuban telah pecah > 18 jam, berikan antibiotika frofilaksis untuk mengurangi resiko infeksi streptokokus grup B. berikan ampisilin 2 gr I.V. setiap 6 jam atau penisilin G 2 juta unit I.V. setiap 6 jam sampai persalinan. Jika tidak ada infeksi pasca persalinan hentikan anti biotika.
  2. Jika serviks sudah matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin
  3. Jika serviks belum matang, matangkan serviks dengan prostag tandin dan infus oksitosin atan lahirkan dengan seksio saesarea.
  1. Amnionitis

-            Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan :

  1. Ampisilin 2 mg I.V. setiap 6 jam, ditambah gentamisin 5 mg/kg BB I.V. setiap 24 jam
  2. Jika persalinan pervaginam, hentikan antibiotika pasca persalinan
  3. Jika persalinan dengan seksio saesarea, lanjutkan antibiotika dan berikan metronidazol 500 mg I.V. setiap 6 jam sampai bebas demam selama 48 jam

-          Jika serviks matang ;lakukan induksi persalinan dengan oksitosin

-          Jika serviks belum matang, matangkan dengan frostaglandin dan infus oksitosin atau lakukan seksio saesarea.

-          Jika terdapat metritis (demam, cairan vagina berbau) berikan anti biotika.

-          Jika terdapat sepsis pada BBL lakukan pemeriksaan kultur dan berikan antibiotika.

 

6. Gerakan janin tidak terasa

Gerakan janin tidak ada atau kurang (minimal 3 kali dalam 1 jam). Ibu mulai merasakan gerakan bayi selama bulan ke-5 atau ke-6. Beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika bayi tidur gerakannya akan melemah. Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam 1 jam jika ibu berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik (Pusdiknakes, 2003).

Penanganan umum

  1. Berikan dukungan emosional pada ibu.
  2. Nilai denyut jantung janin :

-       Bila ibu mendapat sedatif, tunggu hilangnya pengaruh obat, kemudian nilai ulang

-       Bila DJJ tidak terdengar minta beberapa orang mendengarkan menggunakan stetostop Doppler

Penanganan khusus

Kematian janin janin dapat terjadi akibat gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, atau kelainan bawaan atau akibat infeksi yang tidak terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak terobati.

  1. Jika pemeriksaan radiologi tersedia, konfirmasi kematian janin setelah 5 hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang tengkorak, hiperfleksi kolumna vertebralis, gelembung udara didalam jantung dan edema sclap.
  2. USG : merupakan sarana penunjang diagnostic yang baik untuk memastikan kematian janin dimana gambarannya menunjukkan janin tanpa tanda kehidupan : tidak ada DJJ, ukuran kepala janin dan cairan ketuban berkurang
  3. Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien. Sebaiknya pasien selalu didampingi oleh orang-orang terdekatnya. Yakinkan bahwa besar kemungkinan dapat lahir pervaginam.
  4. Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum keputusan diambil
  5. Bila pilihan penganan adalah ekspektatif :
  • Tunggu persalinan spontan hingga 2 minggu
  • Yakinkan bahwa persalinan 90% spontan akan terjadi tanpa komplikasi
  • Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan lakukan penanganan aktif.
  1. Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai serviks :
  • Jika serviks matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosin atau proslaglandin.
  • Jika serviks belim matang, lakukan pematangan serviks dengan prostaglandin atau kateter Folay
  • Catatan : jangan lakukan amniotomi karena beresiko infeksi.
  1. Persalinan dengan seksio saesarea merupakan alternatif terakhir.
  2. Jika persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun dan serviks belum matang, matangkan serviks dengan misoprostol :
  • Tempatkan misoprostol 25 mcg dipuncak vagina, dapat di ulangi setelah 6 jam
  • Jika tidak ada respon sesudah 2x 25 mcg misoprostol, naikkan dosis menjadi 60 mcg setiap 6 jam
  • Catatan : jangan berikan lebih dari 50 mcg setiap kali dan jangan melebihi 4 dosis.
  1. Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotika untuk metritis
  2. Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah pecah, waspada koaglopati.
  3. Berikan kesempatan pada ibu dan keluarganya untuk melihat dan melakukan kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut.
  4. Pemeriksaan patologi placenta adalah untuk mengungkapkan adanya patologi placenta dan infeksi.
  1. 7.      Nyeri perut yang hebat

Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan normal adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang mungkin menunjukkan masalah yang mengancam keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap, dan tidak hilang setelah istirahat. Hal ini bisa berarti appendiksitis, kehamilan ektopik, aborsi, penyakit radang pelvis, persalinan preterm, gastritis, penyakit kantong empedu, iritasi uterus, solutio placenta, infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya (Pusdiknakes, 2003).

Masalah

  • ibu mengeluh nyeri perut dalam kehamilan lebih dari 22 minggu.

 Penanganan

-       Segera nilai keadaan umum pasien termasuk tanda-tanda vital (nadi, tekanana darah, pernafasan, suhu)

-       Jika syok atau perdarahan banyak segera mulai penanganan syok:

  1. Pasang infuse dengan jarum 16 gauge atau lebih besar
  2. Ambil contoh darah untuk periksaan Hb, golongan darah dan uji silang
  3. Guyur dengan NaCl atau Ranger Laktat

-        Jika tanda-tanda syok tidak terlihat, ingatlah saat anda melakukan evaluasi lanjut karena stastus ibu tersebut dapat memburuk dengan cepat. Jika terjadi syok segera mulai menatal;aksanaan syok.

-       Jika sangat kesakitan beri suntikan peptidin atau morfin (jangan berikan analgetika sebelum dilakukan pemeriksaan).

-       Jika ada tanda-tanda sepsis beri antibiotika I.V. atau I.M.

-       Ukur darah yang hilang, cairan yang diberikan dan produksi urin

DAPUS

Belscher NA, Macky. Obstetric and the Newborn and Illustrated Textbook 2nd. ed.Sydney : WB. Saunders Company 1986. 305.

Fairwether. Nausea and Vomity in Pregnancy, Am J Obst. & gynec. 1968. vol. 102;135-171.

Greenhill. Obstetrics 12 th. ed. Philadelphia : WB. Saunders Company. 1961. 375-377.

Hasuki, I. Jangan Remehkan Gangguan Penglihatan. http//www.intisari-online.com.  Diakses: 19 Februari.

Mannor SM. Hyperemesis Gravidarum. In : Iffty L, Kaminetzky HA eds. Principles and Practise of Obstetric and Perinatology. Vol. 12. Toronto : A Wiley Medical Publication. 1981. 1155-1164.

Mochtar, R. Sinopsis Obstetri. Buku Kedekteran. 1998, Jakarta.

Saifuddin, BA. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Material dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002, Jakarta.

Sastrawinata, S. Obstetri Patologi. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. 1981, Bandung.

Wiknjosastro, H. Ilmu Kandungan I. Bina Pustaka sarwono Prawiroharjo. 2008, Jakarta.

Wiknjosastro, H. Ilmu Kandungan II. Bina Pustaka sarwono Prawiroharjo. 2008, Jakarta.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: